Pertusis: Batuk yang Jangan Dianggap Sepele
Pertusis: Batuk yang Jangan Dianggap Sepele
Batuk memang sering dianggap sebagai keluhan biasa. Tetapi bagaimana kalau batuknya datang berulang-ulang, sangat kuat, sampai membuat sulit bernapas atau muntah? Hati-hati, bisa jadi itu bukan batuk biasa, melainkan pertusis.
Pertusis atau yang sering disebut batuk rejan (whooping cough) adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini sangat mudah menular melalui percikan saat seseorang batuk atau bersin.
Yang perlu diingat, pertusis bukan hanya penyakit pada anak. Remaja dan orang dewasa juga bisa tertular. Bedanya, pada orang yang lebih besar gejalanya kadang tampak seperti batuk biasa sehingga tidak disadari. Akibatnya, pertusis dapat menular kepada bayi dan anak kecil di sekitarnya yang risikonya jauh lebih besar.
Awalnya Mirip Flu Biasa
Inilah salah satu alasan pertusis sering terlambat dikenali.
Pada tahap awal, gejalanya dapat berupa:
-
pilek atau hidung tersumbat,
-
demam ringan,
-
batuk ringan,
-
terkadang bersin.
Keluhan tersebut biasanya muncul sekitar beberapa hari hingga dua minggu setelah seseorang terinfeksi. Pada tahap ini, pertusis bisa terlihat seperti flu atau infeksi saluran pernapasan biasa.
Namun setelah satu hingga dua minggu, batuk dapat berubah menjadi lebih berat.
Batuk bisa muncul berulang-ulang dalam satu serangan, membuat penderitanya kelelahan dan kesulitan mengambil napas. Pada sebagian orang, terutama anak, setelah serangan batuk dapat terdengar tarikan napas berbunyi tinggi yang dikenal sebagai whoop. Batuk juga dapat disertai muntah.
Mengapa Pertusis Berbahaya?
Masalahnya bukan sekadar "batuknya lama".
Pertusis dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Pada kondisi tertentu, batuk berat dapat menyebabkan gangguan tidur, kelelahan, dehidrasi, bahkan komplikasi seperti pneumonia.
Bayi adalah kelompok yang paling rentan.
Pada bayi, pertusis tidak selalu ditandai dengan batuk yang khas. Bayi justru dapat mengalami jeda napas atau kesulitan bernapas, sehingga penyakit ini bisa menjadi serius dengan cepat.
Menurut CDC, sekitar 1 dari 3 bayi berusia di bawah satu tahun yang terkena pertusis membutuhkan perawatan di rumah sakit. Risiko komplikasi semakin tinggi pada bayi yang masih sangat kecil dan belum mendapatkan perlindungan vaksin secara lengkap.
Karena itu, jangan menunggu sampai batuk terdengar "seperti batuk rejan" untuk mencari pertolongan.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Semua orang dapat terkena pertusis, tetapi perhatian khusus perlu diberikan kepada:
Bayi dan anak kecil
Terutama bayi yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Ibu hamil
Perlindungan ibu selama kehamilan dapat membantu memberikan perlindungan kepada bayi setelah lahir, sesuai rekomendasi program imunisasi dan tenaga kesehatan setempat.
Orang yang tinggal serumah dengan bayi
Batuk yang tampak ringan pada orang dewasa dapat menjadi sumber penularan bagi bayi.
Anak sekolah, remaja, dan orang dewasa
Pertusis tetap dapat menyerang kelompok usia ini, dan gejalanya bisa lebih ringan atau tidak khas sehingga mudah terlewatkan.
Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?
Jangan abaikan batuk yang semakin berat atau berlangsung lama, terutama jika:
- batuk datang dalam serangan berulang,
- sulit bernapas setelah batuk,
- muntah setelah batuk,
- sangat lemas atau sulit makan dan minum,
- pada bayi terdapat jeda napas atau tampak kesulitan bernapas,
- atau ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa.
-
Pertusis mengingatkan kita bahwa keluhan yang terlihat sederhana belum tentu selalu sederhana.
Kebiasaan menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, mencuci tangan, menghindari kontak dekat ketika sedang sakit, serta memastikan imunisasi sesuai jadwal merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi penularan penyakit saluran pernapasan.
Jadi, kalau batuk terasa semakin berat, berulang, atau membuat sulit bernapas, jangan hanya menunggu sembuh sendiri. Periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Karena mencegah selalu lebih baik daripada terlambat mengenali.
Puskesmas Kebumen III
Sehat bersama, peduli sesama.
